Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti bersama Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menghadiri Puncak Karya Atma Wedana (Nyekah Massal) Desa Adat Tuban yang digelar di Lapangan Basket Desa Adat Tuban, Kelurahan Tuban, Kecamatan Kuta, Rabu (5/8). Kehadiran pimpinan daerah tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap pelestarian adat, agama, seni, dan budaya yang tetap hidup di tengah pesatnya perkembangan sektor pariwisata di Kabupaten Badung.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Camat Kuta I Made Agus Suantara, Camat Kuta Selatan I Kadek Laksana, Lurah Tuban I Dewa Gede Saka Putra, Bendesa Adat Tuban I Wayan Mendra, jajaran Prawartaka Karya, tokoh masyarakat, serta ribuan krama Desa Adat Tuban yang memadati lokasi pelaksanaan upacara.
Puncak karya yang bertepatan dengan rangkaian upacara ngekeb dan metatah itu diikuti oleh 44 peserta sawa nyekah serta 84 peserta metatah. Seluruh prosesi berlangsung dengan khidmat, mencerminkan kuatnya semangat gotong royong dan kebersamaan masyarakat adat dalam menjalankan warisan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti menyampaikan doa agar seluruh rangkaian upacara Atiwa-tiwa dan Atma Wedana dapat berjalan lancar serta memberikan kerahayuan bagi seluruh peserta dan masyarakat Desa Adat Tuban.
“Semoga seluruh rangkaian upacara Atiwa-tiwa dan Atma Wedana di Desa Adat Tuban dapat berjalan lancar, memargi antar labda karya sida purna sida sidaning don,” ujar Anom Gumanti.
Menurutnya, pelaksanaan karya adat seperti Atma Wedana atau Nyekah Massal bukan sekadar rangkaian upacara keagamaan, tetapi juga menjadi wujud nyata komitmen masyarakat Bali dalam menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi. Nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan rasa bakti kepada leluhur yang tercermin dalam setiap prosesi merupakan modal sosial yang harus terus dipertahankan.
Anom Gumanti menegaskan, keberadaan adat dan budaya menjadi salah satu kekuatan utama yang membedakan Bali dengan destinasi wisata lainnya. Karena itu, pelestarian tradisi harus terus berjalan seiring dengan pembangunan daerah agar kemajuan yang dicapai tidak menghilangkan jati diri masyarakat Bali. “Kekayaan adat dan budaya yang kita miliki bukan hanya menjadi identitas masyarakat Bali, tetapi juga fondasi utama yang menopang keberlanjutan sektor pariwisata. Kemajuan daerah tidak hanya diukur dari pembangunan infrastruktur, melainkan juga dari kemampuan kita menjaga warisan leluhur agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang,” ungkapnya.
Ia berharap semangat kebersamaan yang tercermin dalam pelaksanaan karya massal tersebut dapat terus dipelihara sebagai bagian dari upaya memperkuat persatuan masyarakat adat sekaligus mendukung pembangunan Kabupaten Badung yang berlandaskan filosofi kearifan lokal dan nilai-nilai budaya Bali.


More Stories
JIKA ATURAN 15 METER DIUBAH, APAKAH BALI MASIH TETAP BALI? Wacana Gedung 45 Meter Picu Perdebatan!
Aksi Sosial Bergerak dan Berbagi Hadir di Buleleng, Putri Koster Ajak Masyarakat Dukung Pembangunan, Ketahanan Pangan, dan Kepedulian Sosial
Awig-Awig Bali Perlu Berubah atau Tetap Dipertahankan? Perdebatan Ini Makin Ramai di Era Digital