Selama puluhan tahun, Bali memiliki satu aturan yang dianggap sebagai simbol komitmen menjaga jati diri Pulau Dewata: tinggi bangunan dibatasi sekitar 15 meter, atau setara tinggi pohon kelapa. Aturan ini bukan sekadar soal konstruksi, tetapi juga mencerminkan filosofi keharmonisan antara manusia, alam, dan budaya yang menjadi ciri khas Bali.
Kini, muncul wacana agar di kawasan tertentu bangunan dapat mencapai 45 meter melalui pengaturan zonasi. Usulan ini langsung memicu perdebatan. Sebagian melihatnya sebagai langkah untuk menjawab kebutuhan pembangunan, efisiensi lahan, dan investasi. Namun sebagian lainnya mempertanyakan, apakah perubahan ini justru menjadi awal berubahnya wajah Bali?
Banyak yang beranggapan bahwa wisatawan datang ke Bali bukan untuk melihat deretan gedung tinggi seperti di kota-kota metropolitan, melainkan untuk menikmati lanskap, budaya, pura, sawah, dan suasana yang berbeda dari tempat lain. Jika gedung-gedung tinggi mulai mendominasi, apakah keunikan itu masih akan tetap terasa?
Di sisi lain, pendukung pembangunan vertikal menilai Bali juga harus mampu beradaptasi. Dengan lahan yang semakin terbatas dan kebutuhan pembangunan yang terus meningkat, mereka berpendapat gedung yang lebih tinggi di zona tertentu justru dapat mengurangi penyebaran pembangunan ke lahan produktif, asalkan direncanakan dengan baik dan tetap menghormati nilai budaya.
Perdebatan ini tidak hanya soal tinggi bangunan. Ini adalah pertanyaan besar tentang masa depan Bali: apakah identitas budaya harus dipertahankan dengan aturan yang ada, atau dapat berjalan berdampingan dengan perubahan melalui tata ruang yang lebih fleksibel?
🔥 Sekarang giliran Anda bersuara.
Jika diberi pilihan:
- A. Tetap pertahankan batas 15 meter demi menjaga identitas Bali.
- B. Izinkan gedung hingga 45 meter di zona tertentu demi kemajuan pembangunan.
Tulis A atau B, lalu jelaskan alasannya. Mari berdiskusi dengan santun dan saling menghormati perbedaan pendapat.


More Stories
Ketua DPRD Badung Anom Gumanti Hadiri Puncak Upacara Nyekah Massal Desa Adat Tuban, Tegaskan Adat Penopang Pariwisata Bali
Aksi Sosial Bergerak dan Berbagi Hadir di Buleleng, Putri Koster Ajak Masyarakat Dukung Pembangunan, Ketahanan Pangan, dan Kepedulian Sosial
Awig-Awig Bali Perlu Berubah atau Tetap Dipertahankan? Perdebatan Ini Makin Ramai di Era Digital