Suasana berbeda terlihat di Warung Be Guling Men Lari saat perayaan Tumpek Klurut. Sejak pagi, warga Bali datang silih berganti dengan wajah penuh semangat untuk menikmati hidangan be guling melalui program traktiran yang digagas Gubernur Bali, Wayan Koster.
Antrean panjang pun tak terhindarkan. Namun, suasana tetap tertib dan penuh keakraban. Banyak keluarga, anak muda, hingga orang tua memanfaatkan momen ini untuk berkumpul sambil menikmati kuliner khas Bali yang telah lama menjadi favorit masyarakat.
Program ini bukan sekadar tentang makan gratis. Bagi banyak warga, ini menjadi simbol kebersamaan sekaligus bentuk dukungan terhadap pelaku UMKM lokal. Warung Be Guling Men Lari menjadi salah satu pusat keramaian, menunjukkan bagaimana kebijakan yang melibatkan usaha kuliner lokal mampu menggerakkan ekonomi sekaligus mempererat hubungan antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.
Di sisi lain, momentum Tumpek Klurut yang identik dengan kasih sayang dan keharmonisan terasa semakin bermakna. Banyak warga mengaku senang karena dapat merayakan hari suci sambil menikmati hidangan khas Bali bersama keluarga dan kerabat.
Antusiasme masyarakat yang memadati warung menjadi gambaran bahwa program ini mendapat sambutan hangat. Selain memberikan pengalaman yang berkesan bagi warga, kegiatan ini juga membawa dampak positif bagi usaha kuliner lokal yang ikut berpartisipasi.
Menurut Anda, apakah program seperti ini layak dijadikan agenda rutin pada hari-hari besar di Bali untuk mendukung UMKM sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat?


More Stories
Anak Muda Bali Mulai Lupa Bahasa Daerah? Siapa yang Harus Bertanggung Jawab atas Masa Depan Bahasa Bali?
Pariwisata Berkualitas vs Pariwisata Massal: Jalan Mana yang Lebih Tepat untuk Masa Depan Bali?
Mimpi Punya Rumah di Bali Kian Jauh? Ketika Harga Tanah Melambung, Generasi Muda Harus Memilih Bertahan atau Pergi