September 11, 2026

infobalinetizen

Portal Informasi Asik dan Menarik

Pesan Menyentuh Putri Koster: Jangan Sampai Aksara Bali Tinggal Cerita

Spread the love

Di tengah derasnya perkembangan zaman dan gempuran budaya digital, ada satu pertanyaan yang mulai terasa relevan: apakah kita masih benar-benar menjaga warisan leluhur kita? Pertanyaan ini seolah dijawab langsung oleh Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, dalam Seminar Aksara Kawi dan Bali “Nyastra” di Denpasar, Kamis (10/9/2026).

Dengan penuh ketegasan namun tetap hangat, Putri Koster mengajak masyarakat Bali untuk tidak sekadar bangga memiliki aksara sendiri, tetapi juga aktif menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Baginya, aksara bukan hanya simbol, melainkan penanda peradaban yang mencerminkan jati diri sebuah bangsa. Bali termasuk sedikit daerah di Indonesia yang masih memiliki dan mempertahankan aksaranya sebuah warisan yang tak ternilai.

Namun, ia mengingatkan, keberadaan regulasi saja tidak cukup. Meski Pemerintah Provinsi Bali telah mengeluarkan Pergub Nomor 80 Tahun 2018 tentang perlindungan bahasa, aksara, dan sastra Bali, semua itu tidak akan berarti tanpa keterlibatan nyata masyarakat. Ketika aksara mulai jarang digunakan, di situlah tanda awal warisan itu perlahan memudar.

Menariknya, Putri Koster juga menegaskan bahwa belajar aksara Bali tidak mengenal usia. Siapa pun bisa mulai, kapan pun. Dari anak-anak hingga orang dewasa, semua punya peran penting dalam menjaga kesinambungan budaya ini. Bahkan, ia berharap kegiatan seperti seminar “Nyastra” tidak berhenti di diskusi saja, tetapi melahirkan karya nyata baik dalam bentuk tulisan, buku, hingga inovasi berbasis digital.

Di sisi lain, perkembangan teknologi justru membuka peluang baru. Saat ini, puluhan font aksara Bali telah dikembangkan, menunjukkan bahwa tradisi bisa berjalan beriringan dengan kemajuan. Teknologi bukan ancaman, melainkan jembatan untuk memperluas penggunaan aksara Bali ke generasi muda.

Pesan yang disampaikan begitu sederhana namun dalam: menjaga aksara Bali bukan tugas segelintir orang, melainkan tanggung jawab bersama. Karena saat kita berhenti menggunakan, di situlah kita perlahan kehilangan.

Nah, menurut kamu, di era sekarang ini, cara paling sederhana apa yang bisa kita lakukan agar aksara Bali tetap hidup dan dekat dengan generasi muda? ✨