Di tengah pesatnya perubahan gaya hidup masyarakat Bali, pelaksanaan upacara ngaben juga mengalami perkembangan. Jika dahulu prosesi ngaben identik dengan pembakaran jenazah di setra menggunakan bade dan lembu yang megah, kini semakin banyak keluarga memilih melaksanakan kremasi di krematorium.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat: apakah tradisi ngaben mulai berubah?
Jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak”. Yang berubah sebenarnya lebih banyak pada cara pelaksanaan, sementara tujuan dan makna spiritualnya tetap sama.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa meningkatnya penggunaan krematorium didorong oleh beberapa faktor. Pertama, efisiensi waktu. Di krematorium, keluarga tidak perlu menunggu waktu lama untuk mempersiapkan sarana upacara. Kedua, biaya yang relatif lebih terukur sehingga dapat meringankan beban keluarga. Ketiga, semakin banyak masyarakat Bali yang tinggal di kota atau bahkan di luar Bali sehingga membutuhkan pelaksanaan upacara yang lebih praktis. (E-Journal UNUD)
Meski demikian, pelaksanaan ngaben di krematorium tetap mengikuti tata cara agama Hindu. Upacara seperti nyiramin, ngaskara, hingga prosesi pelepasan roh tetap dilakukan sesuai tuntunan sastra agama dan dipimpin oleh pemangku atau sulinggih. Karena itu, banyak tokoh agama menegaskan bahwa krematorium bukanlah pengganti makna ngaben, melainkan hanya menyediakan tempat pelaksanaan kremasi yang lebih efisien. (EJOURNAL UHNSugriwa)
Di sisi lain, sebagian masyarakat masih memilih ngaben secara tradisional karena dianggap memiliki nilai kebersamaan yang kuat. Prosesi tersebut melibatkan banjar, keluarga besar, dan masyarakat adat dalam semangat gotong royong yang telah diwariskan turun-temurun. Bagi mereka, kebersamaan itu merupakan bagian penting dari pelaksanaan yadnya.
Menariknya, sejumlah kajian akademik justru menyebut bahwa penggunaan krematorium bukan berarti meninggalkan tradisi. Modernisasi yang terjadi merupakan bentuk penyesuaian terhadap kondisi sosial masyarakat, bahkan pelaksanaannya tetap merujuk pada ajaran dan lontar Hindu Bali. (E-Journal UNUD)
Pada akhirnya, pilihan antara ngaben tradisional maupun melalui krematorium kembali kepada kondisi masing-masing keluarga. Selama dilaksanakan sesuai ajaran agama Hindu dan menghormati nilai-nilai adat yang berlaku, keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta ke alam semesta serta mengantarkan atma menuju perjalanan spiritual berikutnya. Yang berubah adalah medianya, bukan makna sucinya.
Bagaimana pendapat Anda?
Apakah krematorium merupakan solusi yang tepat bagi masyarakat Bali saat ini, atau justru ngaben tradisional harus tetap menjadi pilihan utama untuk menjaga warisan budaya?
Dirangkum dari
https://ejournal1.unud.ac.id/index.php/kajianbali/article/view/4292?utm_source=chatgpt.com “Modernisasi dan Transformasi Kembali ke Tradisi: Fenomena Ngaben di Krematorium bagi Masyarakat Hindu di Bali | Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies)”
https://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/PJAH/article/view/2889?utm_source=chatgpt.com “UPACARA NGABEN DI KREMATORIUM SANTHAYANA DENPASAR | Pangkaja: Jurnal Agama Hindu”


More Stories
Vila Terus Bertambah, Sawah Bali Tinggal Kenangan?
Bikin Konten di Bali Kini Tak Bisa Sembarangan, Influencer Asing Wajib Patuhi Aturan Visa
Pariwisata Terus Tumbuh, Bali Terancam Krisis Air? Ini Fakta yang Perlu Diketahui