Anggota DPRD Kabupaten Badung Made Tomy Martana Putra menilai pendidikan politik bagi generasi muda saat ini bukan lagi sekadar penting, melainkan sudah sangat urgen. Menurutnya, pemahaman politik perlu ditanamkan sejak dini agar generasi muda tidak bersikap apatis terhadap dinamika demokrasi dan pembangunan daerah.
Politisi muda berusia 33 tahun ini mengungkapkan bahwa pendidikan politik secara terbuka masih jarang dilakukan di desa-desa. Padahal, generasi muda di tingkat banjar maupun desa merupakan calon pemimpin masa depan yang akan melanjutkan pembangunan.
“Pendidikan politik bagi saya bukan hanya penting lagi, tetapi sudah sangat urgen. Hal seperti ini jarang sekali terjadi di desa-desa. Kalau partai tentu selalu melakukan pendidikan politik, tetapi di masyarakat umum khususnya pemuda desa masih sangat terbatas,” ujarnya.
Tomy yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Badung serta Sekretaris DPD II Partai Golkar Badung mengaku sering memanfaatkan berbagai kegiatan pemuda sebagai ruang edukasi politik.
Saat turun ke komunitas pemuda, khususnya kelompok kreatif pembuat ogoh-ogoh maupun organisasi kepemudaan, ia tidak hanya memberikan motivasi terkait kreativitas, tetapi juga menyisipkan pengalaman serta pengetahuan tentang pentingnya berorganisasi dan memahami politik secara sehat.
“Setiap turun ke banjar atau komunitas ogoh-ogoh, saya selalu menyisipkan pengalaman dan soft skill tentang pentingnya berorganisasi. Saya juga menyampaikan kepada pemuda agar jangan anti terhadap politik, karena tujuan politik sebenarnya adalah berbuat baik dan mengawal keadilan bagi masyarakat,” jelasnya.
*Politik Bukan Sekadar Kekuasaan
Menurut Tomy, masih banyak anak muda yang belum memahami fungsi dan tugas wakil rakyat. Hal tersebut kerap ia temukan saat berdialog langsung dengan masyarakat di tingkat banjar.
“Masih banyak yang belum paham sebenarnya apa fungsi dan tugas anggota DPRD. Itu yang sering saya temukan di lapangan ketika turun ke masyarakat,” ungkapnya.
Padahal menurutnya, politik tidak semata-mata tentang kekuasaan atau kontestasi pemilu. Politik juga merupakan bagian dari proses organisasi, pembelajaran kepemimpinan, hingga perjuangan memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Tomy sendiri mengaku lahir dari proses organisasi kepemudaan. Politisi asal Pecatu ini bahkan menyebut partai politik sebagai “kampus kedua” yang membentuk karakter dan pemahaman politiknya. “Saya masuk partai setelah ujian skripsi. Bagi saya partai itu seperti kampus kedua. Banyak sekali pembelajaran yang saya dapatkan di sana,” tuturnya.
*Politik Milenial dan Gen Z
Tomy menilai era politik konvensional yang kaku sudah saatnya ditinggalkan. Menurutnya, saat ini merupakan era generasi milenial dan Gen Z yang memiliki cara pandang lebih terbuka, kreatif, dan kritis terhadap berbagai persoalan sosial. “Politik konvensional harus mulai ditinggalkan. Sekarang zamannya generasi milenial dan Gen Z. Anak muda inilah yang akan menjadi tongkat estafet untuk melanjutkan pembangunan,” tegasnya.
Karena itu, ia mendorong organisasi kepemudaan seperti yowana maupun karang taruna untuk menjadi motor penggerak pendidikan politik di desa-desa.
Menurutnya, forum diskusi, seminar, atau dialog santai tentang politik sangat penting dilakukan agar generasi muda memiliki pemahaman yang benar tentang demokrasi. “Kalau bisa yowana atau karang taruna yang menggerakkan. Karena sebenarnya pendidikan politik harus dimulai dari desa. Masih banyak anak muda yang belum paham politik, bahkan cenderung apatis. Itu yang perlu diedukasi,” katanya.
*Pemuda Jangan Jadi Alat Politik
Tomy juga mengingatkan agar generasi muda tidak mudah didoktrin oleh praktik politik lama yang cenderung memecah belah. Ia menilai pemuda harus berani bersikap kritis dan tidak sekadar menjadi pengikut. “Pemuda jangan hanya menjadi followers. Harus punya jiwa rebel untuk merubah gaya politik lama. Mari ubah gaya politik ini agar lebih sehat,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa organisasi pemuda seperti karang taruna maupun yowana sebaiknya tetap menjaga sikap netral serta tidak terseret dalam kepentingan politik praktis.
Menurutnya, perbedaan pilihan politik merupakan hal yang wajar dalam demokrasi, tetapi tidak boleh merusak hubungan sosial di masyarakat. “Kita memang punya warna masing-masing, tetapi kita hidup dalam kebinekaan. Warna itu hanya alat untuk mencapai tujuan, dan muaranya tetap sama, yaitu mensejahterakan masyarakat,” jelasnya.
*Perbedaan Politik Tidak Harus Memecah Keluarga
Sebagai contoh nyata, Tomy menceritakan pengalaman di keluarganya sendiri yang menunjukkan bahwa perbedaan pilihan politik tidak harus memecah hubungan kekeluargaan.
Ia mengungkapkan bahwa dalam keluarganya terdapat dua cucu dari satu kakek yang sama-sama menjadi sekretaris partai politik berbeda di Badung. “Saya sering menyampaikan contoh di keluarga saya sendiri. Kakek saya punya dua cucu yang menjadi sekretaris partai di Badung. Saya sebagai Sekretaris Golkar Badung, sementara sepupu saya Wayan Adi Arnawa menjadi Sekretaris PDIP Badung yang juga menjabat sebagai Bupati Badung,” ungkapnya.
Meski berasal dari partai politik berbeda, hubungan keluarga mereka tetap harmonis dan saling menghormati. “Kami ini sepupu, tetapi tetap rukun. Jadi perbedaan warna politik tidak harus membuat kita bermusuhan,” imbuhnya.
*Tantang Pemuda Badung Gelar Pendidikan Politik
Sebagai politisi muda, Tomy bahkan menantang generasi muda di setiap desa di Kabupaten Badung untuk mulai menginisiasi forum pendidikan politik secara mandiri.
Ia mendorong agar organisasi pemuda mengundang anggota DPRD dari daerah pemilihan setempat sebagai pembicara, sehingga masyarakat bisa mengetahui secara langsung peran dan kemampuan wakil rakyatnya.
“Silakan buat pendidikan politik di desa. Undang anggota DPRD dari dapil setempat atau siapa saja. Libatkan semua tanpa melihat warna politik agar masyarakat tahu sejauh mana kemampuan wakil rakyatnya,” ujarnya.
Namun ia menegaskan kegiatan tersebut sebaiknya tidak dilakukan mendekati tahun pemilu agar tidak menimbulkan kesan sebagai ajang kampanye. “Kalau bisa jangan dilakukan dekat-dekat tahun pemilu supaya tidak terkesan debat atau kampanye bersama. Pendidikan politik harus dilakukan di luar tahun politik,” katanya.
Mengutip pemikiran ilmuwan dunia Albert Einstein, Tomy menutup pesannya dengan refleksi tentang kompleksitas dunia politik.
“Albert Einstein pernah mengatakan bahwa politik itu lebih sulit dari fisika. Karena itu generasi muda harus belajar dan memahami politik dengan baik,” pungkasnya.


More Stories
DPRD Badung Bahas Raperda Pelestarian Seni dan Budaya, Perkuat Payung Hukum Kearifan Lokal
Sampaikan 3 Tuntutan, Gubernur Koster Terima Perwakilan Forum Komunikasi Swakelola Sampah Bali, Disepakati, Sampah Organik Bisa Masuk TPA Suwung Seminggu 2 Kali Hingga 31 Juli
Patroli Keimigrasian akan Rutin Digelar, Gubernur Koster Tegaskan Sinergi Lintas Lembaga Jaga Stabilitas Keamanan Bali