April 18, 2026

infobalinetizen

Portal Informasi Asik dan Menarik

Nangluk Merana Desa Adat Kuta, Bukti Desa Adat Tak Tergerus Modernisasi.

Spread the love

Sebagai destinasi yang dari dulu tersohor menjadi tujuan wisatawan asing tidak menjadikan Desa Adat Kuta tergerus modernisasi, berbagai macam adat, budaya bahkan tradisi masih dipertahankan di tengah serbuan wisatawan asing maupun domestik.

Upacara yang dikenal ditujukan untuk penyeimbangan alam di akhir tahun, selalu dilaksanakan dengan nilai – nilai sakral oleh 13 Banjar yang ada di lingkungan Desa Adat Kuta.

Upacara Nangluk Merana merupakan upacara untuk meredam energi negatif dan membangkitkan energi positif. Ritual ini digelar setahun sekali pada sasih (bulan) keenam berdasar perhitungan kalender Bali. Yakni setiap Kajeng Kliwon Uwudan.

Dari termuda sampai tertua begitu antusias melaksanakan upacara Nangluk Merana sesuai swadharmanya masing – masing, bahkan menurut tokoh Desa Adat Kuta Gst. Anom Gumanti,Sh. berani membantah bahwa anak muda Desa Adat Kuta tak tergerus modernisasi.

“Saya berani bantah! Karena justru budaya yang mereka miliki dan tradisi yang mereka miliki sudah merupakan pakem yang harus mereka lestarikan” ujar Gst. Anom Gumanti,SH.

Lebih lanjut Gst. Anom Gumanti,SH yang juga seorang DPRD Badung ini menjelaskan bahwa, anak mudapun mengambil peran sesuai swadarma pada saat prosesi Nangluk Merana.

“Terbuktinya, ketika prosesi Nangluk Merana di laksanakan ya tentu sesuai dengan swadarma sebgai anak muda. Misalnya baleganjur mereka berperan aktif disana. Dan perlengkapan dan perangkat Ida Bethara mereka juga yang mengusung”. Sambung Gst. Anom Gumanti.

Dalam filosofinya, sasih ke enam merupakan sasih yang rentan akan “Merana” yang diartikan sebagai sakit atau musibah. Nangluk Merana merupakan prosesi penetralisir dan penharmonisasian agar alam sekala dan alam niskala menjadi seimbang.

“Di sasih ke-6 ini dianggap sasih yang paling rentan dengan merana. Ada gering, ada sasap dan yang lain – lain. Nah inilah yang perlu di netralisir, perlu diharmonisasi agar kembali lagi antara alam sekala dan niskala menjadi seimbang.” Tutup Gst. Anom Gumanti, SH.

video lengkap di :