Meski sebagian wilayah Bali mulai memasuki musim kemarau, hujan masih kerap mengguyur sejumlah daerah dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini dipengaruhi dinamika atmosfer yang masih aktif mendukung pembentukan awan hujan di Pulau Dewata.
Prakirawan Cuaca BBMKG Wilayah III Denpasar, Luh Nyoman Didik Tri Utami menjelaskan, kondisi cuaca saat ini masih tergolong normal. Namun, adanya pola belokan angin dan fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) fase 4 membuat potensi terbentuknya awan konvektif penyebab hujan masih cukup tinggi di Bali.
“Kondisi cuaca saat ini masih dalam kategori normal. Hujan yang terjadi di wilayah Bali dipengaruhi beberapa faktor, meliputi pola belokan angin serta fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) yang saat ini berada pada fase 4 sehingga meningkatkan potensi pembentukan awan konvektif penyebab hujan,” ujarnya, Selasa (19/5).
Ia menjelaskan, massa udara basah masih terkonsentrasi mulai dari lapisan permukaan hingga lapisan 700 hPa atau sekitar 3.000 meter di atas wilayah Bali. Selain itu, suhu muka laut di sekitar perairan Bali juga terpantau cukup hangat sehingga meningkatkan suplai uap air ke atmosfer.
Meski musim kemarau mulai berlangsung di sejumlah wilayah, hujan lokal dengan pola tidak merata masih berpotensi terjadi apabila terdapat faktor cuaca pendukung. Puncak musim kemarau di Bali sendiri diprediksi terjadi pada Agustus 2026.
Dari faktor global, MJO menjadi pemicu dominan yang memengaruhi kondisi cuaca Bali saat ini. Fenomena tersebut sedang aktif di fase 4 dan berkontribusi terhadap peningkatan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia.
“Untuk MJO saat ini berada di fase 4 yang berkontribusi terhadap proses pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia. Sehingga saat ini, faktor skala global yang mempengaruhi cuaca di Bali adalah MJO,” katanya.
BMKG memprakirakan dalam tiga hari ke depan sebagian besar wilayah Bali masih berpotensi mengalami hujan ringan hingga sedang. Selain itu, potensi angin kencang diperkirakan terjadi di wilayah Kabupaten Klungkung pada 20 Mei 2026.
Sementara, untuk kondisi perairan, gelombang laut setinggi 2 meter atau lebih berpotensi terjadi di Selat Bali bagian selatan, Selat Badung, Perairan Selatan Pulau Bali, dan Selat Lombok bagian selatan.
Di sisi lain, musim kemarau tahun 2026 diprediksi tidak akan sekering tahun 2015 maupun 2023. Hal itu dipengaruhi fenomena El Nino yang pada semester kedua 2026 diperkirakan berada pada kategori lemah hingga moderat.
“Saat ini sebagian wilayah Bali, khususnya daerah tengah, masih mengalami hujan karena berada dalam masa peralihan musim. Meski tidak sekering sebelumnya, durasi musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih lama dari biasanya,” pungkasnya.


More Stories
Kabupaten Badung Luncurkan Gerakan “badung Peduli Residu” Di Semarak Posyandu 2026
Bupati Pimpin Hlm Ketahanan Pangan Dan Pengendalian Inflasi
Gubernur Koster Dukung Gateball Bali Naik Kelas, Targetkan Turnamen Internasional Lewat Gubernur Cup