Bagaimana jika Posyandu bukan lagi sekadar tempat pelayanan kesehatan, tetapi menjadi mata dan telinga untuk membantu mengenali persoalan masyarakat? Pesan inilah yang ditekankan Ketua TP Posyandu Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, saat hadir dalam aksi sosial “Membina dan Berbagi” di Kabupaten Bangli, Rabu (2/9).
Kegiatan yang digelar di Desa Abuan, Susut, dan Kelurahan Bebalang, Bangli, tersebut menyasar 104 kader Posyandu dari 11 Posyandu. Selain memberikan apresiasi, Ny. Putri Koster juga menyerahkan bantuan berupa 30 kg beras, dua krat telur, dan dua kotak susu kepada setiap kader.
Namun, ada pesan yang tak kalah penting dari bantuan tersebut.
Ny. Putri Koster mengingatkan bahwa Posyandu kini telah bertransformasi dengan cakupan enam bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM), mulai dari pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, sosial, hingga ketenteraman, ketertiban umum dan perlindungan masyarakat.
Karena itu, kader didorong untuk lebih peka dan proaktif melihat kondisi warga. Misalnya, ketika menemukan anak yang kesulitan melanjutkan pendidikan, kader dapat membantu memfasilitasi dan berkoordinasi dengan pemerintah desa. Termasuk mengarahkan masyarakat yang memenuhi persyaratan pada Program 1 Keluarga 1 Sarjana dari Pemerintah Provinsi Bali.
Begitu pula ketika menemukan persoalan sosial maupun ketenteraman di lingkungan. Kader tidak harus menjadi eksekutor, tetapi berperan mencatat, mendata, dan meneruskan persoalan melalui jalur koordinasi yang tepat.
Dengan transformasi ini, Posyandu diharapkan semakin dekat dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Menurut Anda, apakah Posyandu ke depan bisa menjadi pusat pelayanan masyarakat yang semakin aktif dan responsif?
Tulis pendapat Anda di kolom komentar. Mari dukung kader Posyandu agar semakin kuat, peka, dan bermanfaat bagi masyarakat Bali.


More Stories
Gubernur Bali Wayan Koster Siap Ubah Wajah Transportasi Bali! Trem Bandara – Canggu Dibidik Mulai 2028
Ngayah Wajib : Wujud Tanggung Jawab atau Mulai Terasa Sebagai Beban?
ADAT BALI HARUS BERUBAH? Tradisi Leluhur vs Tuntutan Zaman Modern