“Satu Jiwa, Tiga Rupa” menjadi konsep yang ditawarkan Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, dalam mengembangkan wastra Bali agar tidak hanya lestari sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu tumbuh menjadi bagian dari industri mode dan menembus panggung global. Konsep tersebut disampaikan saat Dekranasda Bali Fashion Road Show “Wastra Hita Kara” di Gedung Kesenian Ir. Soekarno, Jembrana, Kamis (26/8).
Ny. Putri Koster mengatakan, Dekranasda Provinsi Bali memiliki tiga program fashion show yang dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya membangun legacy bagi perkembangan fashion di Pulau Bali.
“Dekranasda Provinsi Bali ingin mendapatkan legacy terkait dengan fashion di Pulau Bali. Astungkara, ke depannya Bali bisa menjadi pusat mode dunia. Ini harus kita lakukan secara kontinu dan konsisten,” ujar Ny. Putri Koster.
Fashion Road Show “Wastra Hita Kara” di Jembrana merupakan pelaksanaan ketiga setelah sebelumnya digelar di Kabupaten Badung dan Kota Denpasar. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang peragaan busana, tetapi juga menjadi ruang untuk membuka wawasan mengenai dunia fashion yang ingin dikembangkan Bali dan Indonesia.
Menurut Ny. Putri Koster, jika wastra Bali ingin dibawa ke panggung industri mode global, maka dibutuhkan lebih dari sekadar kreativitas dan estetika. Karena itu, ia memperkenalkan konsep “satu jiwa, tiga rupa”.
“Satu jiwa itu muncul dari rasa seni dan estetika masyarakat Bali, baik dari leluhur kita maupun generasi muda yang ada saat ini, yang diwujudkan dalam bentuk wastra tradisional. Kemudian ada tiga rupa yang bisa memunculkan, mengagungkan dan memuliakan wastra kita, yaitu seni, bisnis, dan politik kebudayaan,” jelasnya.
Rupa pertama adalah seni. Seni menjadi roh dan jiwa dari kain-kain tradisional Bali. Ikatan dan motif pada wastra Bali tidak sekadar memiliki nilai estetika, tetapi juga mengandung filosofi dan kekuatan spiritual yang merepresentasikan Bali sebagai Pulau Dewata dan pulau kesenian.
“Seni yang memberi roh dan jiwa dari kain-kain dalam ikatan itu. Di dalamnya mengandung filosofi kuat sebagai anak Bali yang mewakili tanah Bali, yang konon adalah Pulau Dewata, pulau kesenian. Seni akan mengangkat sehingga kain itu punya taksu. Itulah yang membedakan tenun tradisional dengan bahan tekstil pabrikan yang begitu dingin,” ungkapnya.
Rupa kedua adalah bisnis. Pengembangan wastra Bali harus mampu menggerakkan roda perekonomian dan memberikan manfaat langsung bagi para perajin, khususnya para penenun yang berada di pelosok-pelosok desa.
Menurutnya, ketika wastra Bali memiliki nilai ekonomi yang kuat, kesejahteraan perajin akan meningkat. Hal tersebut sekaligus membuka peluang regenerasi dan memastikan tradisi menenun dapat terus berlangsung secara berkelanjutan.
Rupa ketiga adalah politik kebudayaan. Ny. Putri Koster menilai aspek ini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan wastra Bali karena di dalam kain tradisional terdapat nilai filosofis dan spiritual yang harus dilindungi melalui aturan dan kebijakan.
“Politik kebudayaan ini menjadi pemungkas dari semuanya karena di dalamnya ada aturan-aturan hukum. Bila kain tenun ini tidak kita lindungi dengan aturan hukum, maka akan hilang,” tegasnya.
Ia mengingatkan, keberlangsungan perekonomian wastra juga tidak dapat dipisahkan dari perlindungan dan regulasi. Tanpa aturan, produk budaya lokal akan menghadapi persaingan yang semakin berat dan berpotensi kehilangan nilai serta identitasnya.
“Perekonomian tidak akan terjaga jika tidak ada aturan. Karena dalam dunia bisnis seperti hutan rimba. Kain-kain kita akan menjadi terpuruk dan turun kastanya, tidak punya roh dan taksu-nya,” katanya.
Untuk itu, Ny. Putri Koster mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama melestarikan dan mengembangkan wastra Bali dengan penuh jiwa, serta dilakukan secara kontinu dan konsisten.
“Mari kita tenun sepenuh jiwa dan kita lestarikan. Syaratnya harus kontinu dan konsisten. Mari bergerak bersama,” ajaknya.
Khusus di Kabupaten Jembrana, Ny. Putri Koster berharap semakin banyak desainer lokal yang mampu mengembangkan kreativitasnya hingga ke tingkat nasional maupun internasional. Menurutnya, pertumbuhan desainer lokal akan menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem fashion Bali.
“Di Jembrana saya ingin tumbuh lagi desainer-desainer lokal yang kemampuannya mengglobal. Kalau itu tumbuh, maka akan terbangun ekosistem,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Dekranasda Kabupaten Jembrana, Ny. Ani Setiawarini Kembang Hartawan, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Kabupaten Jembrana sebagai bagian dari Dekranasda Bali Fashion Road Show “Wastra Hita Kara”.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Jembrana dan Dekranasda Jembrana, ini merupakan suatu kehormatan bagi Kabupaten Jembrana karena dapat menjadi bagian dari Dekranasda Bali Fashion Road Show ‘Wastra Hita Kara’,” ungkapnya.
Menurut Ny. Ani, kegiatan tersebut menjadi ruang penting untuk menjaga warisan budaya lokal Bali sekaligus mempertemukan desainer, pelaku IKM, pelaku usaha, dan berbagai pihak lainnya sehingga tercipta kolaborasi yang berkelanjutan.
“Kami berharap melalui kegiatan ini dapat menjadi momentum dalam mempertemukan para desainer, pelaku IKM, pelaku usaha dan berbagai pihak lainnya, sehingga tercipta kolaborasi yang berkelanjutan dan mampu memberikan nilai tambah ekonomi serta meningkatkan kesejahteraan para perajin dan pelaku UMKM,” ujarnya.
Ia menambahkan, Jembrana memiliki berbagai potensi budaya yang terus dikembangkan. Salah satunya penggunaan cepaka purih yang menjadi salah satu ciri khas masyarakat Jembrana.
Dekranasda Jembrana juga telah memilih Duta Tenun Jembrana yang diharapkan tidak hanya menjadi ikon, tetapi juga mampu menjadi duta yang mengedukasi generasi muda dan memperkenalkan tenun Jembrana secara lebih luas.
“Kami harap melalui Dekranasda Bali Fashion Road Show ini akan semakin banyak para perajin yang semakin naik dan berkelas serta mampu berkancah di tingkat nasional maupun internasional,” harapnya.
Tampilkan Karya Desainer dan Produk IKM-UKM
Dekranasda Bali Fashion Road Show “Wastra Hita Kara” di Jembrana turut menampilkan karya tujuh desainer, yakni Busana Adat AAA Turah Mayun, Body N Mine, Urban Etnik, Kacarita, Deluxe, Luh Jaum, dan Taksu. Fashion show tersebut diiringi musik dari Gus Teja.
Selain fashion show, kegiatan juga diramaikan dengan pameran produk IKM dan UKM. Sebanyak 10 IKM turut ambil bagian, yakni Putri Mas Collection, Kembar Sari, Arca Collection, Ani Galery, Caka Kembang, Bali Rajut, Linggasari, Ariati Embroidery & Handlace, Butik Jepun, Surya Putra, dan Dana Jaya.
Pameran juga menghadirkan 10 UKM kuliner, yaitu Sibabui, Warung Bu Alit, Lumpia Potong Tugu, Kopi Kelana, Jamu Kunyit Asam, Uma Pia Kasih, Umah Tuak, Sambal Gorlin, Bakii, dan JeCo.
Melalui Fashion Road Show “Wastra Hita Kara”, Dekranasda Provinsi Bali bersama Dekranasda Kabupaten Jembrana terus mendorong penguatan ekosistem fashion dan ekonomi kreatif berbasis budaya. Wastra Bali diharapkan tidak hanya mampu bertahan sebagai warisan leluhur, tetapi juga berkembang menjadi kekuatan ekonomi kreatif yang berdaya saing dan mampu membawa identitas Bali menuju panggung mode nasional hingga global.


More Stories
Estafet Kepemimpinan Imigrasi Ngurah Rai Berganti, Anom Gumanti Harap Sinergi dengan Pemda Diharap Makin Kuat
Sanksi Adat Di Bali : Penjaga Keharmonisan Atau Perlu Berubah?
Merdeka Tanpa Narkoba, Pagelaran Seni Dan Pengukuhan Duta Bersinar Kecamatan Kuta Utara