July 20, 2026

infobalinetizen

Portal Informasi Asik dan Menarik

Di Antara Prasasti dan Kegelisahan Zaman: Teater Agustus Membaca Bali Lewat Pentas “Prasasti” di FSBJ VIII 2026

Spread the love

Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (18/7/2026) malam, menjadi ruang pertemuan antara sejarah, mitologi, dan kritik sosial ketika Sanggar Teater Agustus menampilkan drama berjudul Prasasti dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII 2026.

Pementasan yang disaksikan langsung oleh Ibu Putri Suastini Koster itu tidak sekadar menghadirkan kisah perjalanan lintas waktu. Di tangan tim penyutradaraan Teater Agustus—Wayan Sila Sayana, Ngurah Rai Riauadi, dan Gede Sustrawan—Prasasti menjelma sebagai upaya membaca kembali identitas Bali dan Indonesia melalui jejak sejarah yang tersimpan dalam batu, sekaligus menyoal kegelisahan manusia modern yang kian tercerabut dari akar peradabannya.

Sebagai pendamping Gubernur Bali sekaligus seniman yang dikenal aktif mendorong perkembangan seni dan kebudayaan, Putri Suastini Koster hadir menyaksikan pertunjukan yang menjadi salah satu agenda penting FSBJ VIII 2026 yang berlangsung pada 11–25 Juli.

Naskah yang ditulis oleh I.B. Martinaya atau Gus Martin, yang juga bertindak sebagai penata musik, berangkat dari salah satu artefak sejarah paling penting di Bali, yakni Prasasti Blanjong di Sanur. Namun alih-alih menjadikannya sebagai materi sejarah yang kaku, Teater Agustus mengolahnya menjadi narasi dramatik yang bergerak lincah antara masa lalu dan masa kini.

Cerita diawali oleh sekelompok anak yang melakukan wisata sejarah ke kawasan cagar budaya Prasasti Blanjong. Dalam sebuah peristiwa yang nyaris magis, badai tiba-tiba datang dan melempar mereka ke masa silam, tepat pada masa pemerintahan Raja Sri Kesari Warmadewa.

Di sana, mereka menjadi saksi langsung proses peresmian dan pemancangan Prasasti Jaya Sama, yang kemudian dikenal luas sebagai Prasasti Blanjong. Melalui sudut pandang anak-anak, sejarah tidak tampil sebagai rangkaian fakta yang membosankan, melainkan sebagai pengalaman hidup yang dapat disentuh, dilihat, dan dirasakan secara langsung.

Lapisan dramatik kemudian berkembang ketika pementasan memperkenalkan kisah cinta segitiga antara I Tekek, seorang pemahat yang terlibat dalam pembuatan prasasti, dengan dua perempuan dari latar berbeda: Ni Sing Lian, gadis keturunan Tionghoa, dan Ni Gadung, perempuan pribumi.

Kisah ini menjadi salah satu elemen menarik dalam pementasan karena mengingatkan penonton bahwa Bali sejak berabad-abad lalu telah menjadi ruang perjumpaan berbagai kebudayaan. Kehadiran tokoh Ni Sing Lian merujuk pada sejumlah sumber sejarah yang menyebut keberadaan komunitas pedagang Tionghoa yang hidup berdampingan dengan masyarakat kerajaan pada masa itu.

Namun Prasasti tidak berhenti pada romantisme sejarah.

Di bagian lain, cerita bergerak ke masa kini melalui sekelompok ibu-ibu yang merasa resah melihat kondisi kehidupan yang dianggap semakin kehilangan arah. Mereka berangkat mencari “Prasasti Nusantara”, sebuah artefak yang diyakini menyimpan jawaban mengenai asal-usul negeri ini.

Pencarian tersebut membawa mereka menempuh perjalanan yang absurd sekaligus simbolik. Dalam pengembaraan itu mereka bertemu mahasiswa yang tengah terlibat aksi demonstrasi, sebelum berbagai peristiwa ganjil dan tak terduga terjadi.

Di sinilah kekuatan dramaturgi Prasasti terasa. Naskah tidak menawarkan jawaban tunggal, melainkan menghadirkan pertanyaan-pertanyaan tentang identitas, memori kolektif, dan hubungan manusia modern dengan sejarahnya sendiri. Prasasti bukan lagi sekadar batu bertulis peninggalan masa lampau, melainkan metafora tentang ingatan yang terus dicari ketika masyarakat menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat.

Bagi Teater Agustus, sejarah bukan sesuatu yang selesai. Ia adalah ruang dialog yang terus hidup dan dapat dibaca ulang dari perspektif kekinian. Pendekatan ini terasa sejalan dengan semangat Festival Seni Bali Jani yang sejak awal dirancang sebagai wadah eksplorasi seni modern dan kontemporer berbasis akar budaya Bali.

Usai pementasan, Gus Martin menyampaikan apresiasinya atas kesempatan yang diberikan kepada Sanggar Teater Agustus untuk tampil dalam festival tersebut.

“Atas kesempatan bisa menampilkan pementasan ini, kami secara khusus menghaturkan dahating suksma kepada Ibu Ni Putu Putri Suastini Koster selaku penggagas utama FSBJ sebagai ranah berkreativitas para pegiat seni modern-kontemporer,” ujarnya.

Dalam lanskap seni pertunjukan Bali yang terus berkembang, Prasasti menunjukkan bagaimana sejarah lokal dapat diolah menjadi karya teater yang relevan dengan isu-isu kontemporer. Melalui perpaduan narasi sejarah, fantasi perjalanan waktu, humor, kritik sosial, hingga refleksi kebangsaan, pementasan ini mengajak penonton menengok kembali jejak masa lalu untuk memahami kegelisahan masa kini.

Di akhir pertunjukan, yang tersisa bukan sekadar kisah tentang sebuah prasasti di Blanjong atau pencarian artefak mitologis bernama Prasasti Nusantara. Yang tinggal adalah kesadaran bahwa setiap generasi selalu memiliki prasastinya sendiri—sebuah penanda tentang siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan ke mana mereka hendak melangkah.