April 30, 2026

infobalinetizen

Portal Informasi Asik dan Menarik

Gubernur Bali Wayan Koster Gaspol Energi Bersih: Bali Harus Mandiri, PLTS Jadi Senjata Lepas dari Listrik Luar Pulau

Spread the love

Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan langkah tegas Pemerintah Provinsi Bali untuk memutus ketergantungan listrik dari luar pulau dan mempercepat transformasi menuju Bali Mandiri Energi berbasis energi bersih, dengan PLTS atap, Battery Energy Storage System (BESS), dan kendaraan listrik sebagai pilar utama.
Penegasan tersebut disampaikan Koster saat memimpin rapat koordinasi di Ruang Kertasabha, Jayasabha, Denpasar, Kamis (5/2), yang secara khusus membahas progres pelaksanaan PLTS Atap di Bali, termasuk pengembangan PLTS dan BESS di Nusa Penida.
“Saya ingin mendapat laporan pelaksanaan PLTS atap di Bali, termasuk Nusa Penida. Wilayah itu ingin kita jadikan hijau dan beroperasi dengan energi baru terbarukan. Ini bagian dari program Bali Mandiri Energi dengan energi bersih,” tegas Koster.

*Bali Punya Modal Regulasi Paling Lengkap di Indonesia

Koster menegaskan, Bali memiliki fondasi kebijakan yang sangat kuat untuk melakukan lompatan besar di sektor energi. Bali menjadi satu-satunya provinsi di Indonesia yang memiliki regulasi daerah lengkap, mulai dari Pergub Bali Nomor 45 Tahun 2019 tentang Bali Energi Bersih, Perda Provinsi Bali Nomor 9 Tahun 2020 tentang RUED Bali 2020–2050, hingga Pergub Nomor 48 Tahun 2019 tentang Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai.
“Sekarang kita bisa bergerak cepat, karena kita dengan PLN sudah satu visi. Tinggal percepatan pelaksanaan,” ujarnya.
Keselarasan tersebut diperkuat dengan keterlibatan PLN Group, termasuk ICON PLUS dan PLN Indonesia Power, serta meningkatnya minat pihak swasta dalam skema pengembangan energi bersih di Bali.

*PLTS Atap Terbukti Murah dan Andal, Koster Cerita Pengalaman Pribadi

Dalam rapat tersebut, Koster membagikan pengalaman pribadinya menggunakan PLTS atap di rumahnya di desa. Delapan panel surya dengan kapasitas terpasang sekitar 10.000 watt mampu menghasilkan daya efektif sekitar 6.000 watt, dilengkapi sistem penyimpanan energi.
“Pembayaran listrik bulanan turun sekitar 30 persen. Yang paling bagus, saat PLN mati, listrik di rumah saya tetap hidup. Satu kampung mati, rumah saya tidak mati,” ungkapnya.
Menurut Koster, pengalaman ini menjadi bukti nyata bahwa PLTS atap murah, andal, dan meningkatkan ketahanan energi rumah tangga, sehingga harus didorong secara luas ke masyarakat, perkantoran, hotel, restoran, pusat perbelanjaan, dan fasilitas publik.

*PLTS Atap dan BESS, Pilar Ketahanan Energi Pulau Bali

Sejalan dengan arahan Gubernur, Perumda Kerta Bali Saguna mengembangkan PLTS atap terintegrasi BESS dan EV Solar Charging Station untuk menurunkan beban puncak dan menstabilkan sistem kelistrikan pulau (island grid).
Skema ini memberi efisiensi biaya energi 10–23 persen, dengan investasi dan operasional ditanggung swasta selama masa kontrak, serta aset yang akan menjadi milik pemilik lahan setelah kontrak berakhir.
Sebagai tahap awal, PLTS atap diterapkan di fasilitas publik strategis seperti RSUD Bali Mandara, RS Mata Bali Mandara, IPAL Suwung, dan Jalan Tol Bali Mandara, sebagai contoh konkret transformasi energi bersih di ruang publik.

*Nusa Penida Disiapkan Jadi Etalase Pulau Hijau Bali

Untuk wilayah kepulauan, PLN Indonesia Power tengah mengembangkan PLTS Hybrid 4,5 MW dan BESS Hybrid 4,5 MW di Nusa Penida, yang ditargetkan beroperasi pada 2026 sesuai RUPTL PLN 2025–2034.
Proyek ini krusial karena sistem kelistrikan Nusa Penida bersifat isolated, dengan pertumbuhan beban listrik mencapai 17 persen per tahun. Kehadiran PLTS dan BESS dinilai akan memperkuat keandalan pasokan sekaligus menekan ketergantungan energi fosil.
“Nusa Penida harus menjadi contoh pulau hijau dengan energi bersih,” tegas Koster.
Kendaraan Listrik: Hemat, Bersih, dan Angkat Kelas Pariwisata
Koster juga menegaskan pentingnya percepatan penggunaan kendaraan listrik, yang menurutnya jauh lebih hemat dan ramah lingkungan dibanding kendaraan konvensional.
“Kalau pakai mobil lama, biaya bisa Rp600 ribu. Pakai listrik hanya Rp140 ribu. Tidak pakai oli, perawatan murah, dan tidak ada polusi,” ujarnya.
Energi bersih, kendaraan listrik, pembatasan plastik sekali pakai, dan pertanian organik, menurut Koster, menjadi satu kesatuan strategi untuk menaikkan kelas pariwisata Bali menjadi lebih berkualitas dan berkelanjutan.

*Tolak Ketergantungan Kabel Bawah Laut, Koster Tegas: Batubara Tidak

Dalam pernyataan paling tegas, Koster menyatakan penolakannya terhadap penambahan pasokan listrik Bali dari luar pulau melalui kabel bawah laut.
“Saya tidak mau lagi Bali bergantung pada listrik luar. Pembangkit harus dibangun di Bali dan harus energi bersih. Batubara, saya tidak mau,” tegasnya.
Ia menilai ketergantungan energi eksternal menyimpan risiko besar bagi pulau kecil seperti Bali, terutama sebagai destinasi pariwisata dunia yang membutuhkan kepastian dan keberlanjutan energi.

Target 2026–2029: Transformasi Besar Energi Bali

Gubernur Koster menantang seluruh pihak untuk bekerja dengan target jelas dan terukur. Ia berharap hasil nyata mulai terlihat pada 2026–2028, dan mencapai tonggak besar pada 2029.

“Kalau ini tercapai, itu transformasi besar di bidang energi. Bali akan tampil semakin maju dan semakin keren,” pungkasnya.
Dengan percepatan PLTS, BESS, kendaraan listrik, dan energi bersih, Bali tidak hanya membangun sistem kelistrikan, tetapi menata masa depan pulau yang mandiri, bersih, dan berkelas dunia.