Ibu Putri Koster sebagai penerima lifetime achievement dari KPID Bali mengucapkan rasa bangganya terhadap para jurnalis, pembawa acara dan penyedia informasi yang berperan mengedukasi dan menyajikan siaran positif berdasarkan data dan kenyataan yang terjadi. Karena sebuah berita atau siaran akan memiliki nilai dan kualitas saat yang disajikan tersebut memberikan informasi jelas, transparan dan sesuai kenyataan, mampu memberikan pengetahuan atau mengedukasi serta menyuguhkan informasi yang cepat dan tepat”, tegasnya.
Sebagai penyedia siaran yang dipercaya oleh masyarakat luas, sebaiknya mengimbangi kemampuan untuk terus bersaing secara sehat, agar tidak muncul berita hoax yang menyesatkan pembaca atau penonton, sehingga menyebabkan perpecahan di tengah masyarakat. Hal ini disampaikannya saat menghadiri peringatan Hari Penyiaran Nasional ke-93, di Gedung Kertha Sabha, Denpasar, Jumat (3/4).
Ditambahkannya, sebagai seorang penyiar yang menyampaikan informasi dan berbekal kemampuan mengolah kata-kata secara komunikatif, diharapkan mampu menyampaikan siaran secara konstruktif, menjaga hal hal positif sekaligus mampu mendukung pembangunan berdasarkan data yang mampu mempersatukan masyarakat secara umum. Dan jangan sampai insan-insan penyiaran justru menimbulkan polemik yang menyebabkan tercerai berai karena penyajian informasi yang tidak berimbang dan menyesatkan. Karena di tahun ini di media sosial berkembang sangat cepat, sehingga kita semua wajib mampu menjadi individu yang berperan sebagai penyalur informasi yang tidak menjaga Marwah jurnalistik, sehingga mengaburkan sebuah informasi yang berkembang tanpa data dan kenyataan yang sebenarnya. Jangan sampai kita tidak bisa menjaga populasi kita, tidak bisa menjaga kapasitas dan integritas sebagai penyaji siaran informasi, namun akan berdampak pada down grade kualitas diri dan kemampuan kita sendiri, karena media sosial merupakan sebuah ujian bagi kita yang nantinya akan menunjukkan bagaimana sejatinya karakter yang kita miliki nampak dari unggahan”, imbuh Ibu Putri Koster.
Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Bali, Agus Astapa menyampaikan bahwa untuk menjaga Bali tetap ajeg dan tidak terbentur karena tayangan yang kurang mendidik, bahkan cenderung memecah belah, pihaknya bersama tim Komisioner terus melakukan pengawasan serta monitoring terhadap siaran atau bentuk tayangan yang beredar, baik dari segi materi, konten dan gaya bahasa penyampaian.
Dijelaskannya, dari enam puluh enam (66) radio dan tiga puluh (30) TV penyiaran online hingga saat ini belum ada yang terkena sanksi, karena belum dilihat ada siaran yang melanggar dan diluar batasan. “Jikapun ada Penyiaran atau tayangan yang diluar kontek dan standar, maka secara langsung akan kami tegur secara lisan tahap pertama, dan jika masih ngeyel tentu akan kami tindak tegas”, jelasnya.
Dengan mengangkat tema “Kolaborasi Penyiaran Mewujudkan Ketahanan Nasional”, peringatan Hari Penyiaran Nasional ke-93 diharapkan akan memperkuat ketahanan informasi yang berimbang, terverifikasi dan memiliki kualitas serta mutu yang pantas untuk disimak.
Pada kesempatan ini, juga diserahkan sejumlah penghargaan kepada penyiar muda berbakat radio lagu pop Bali, Gus Wisnu. Penghargaan untuk penyanyi RAP muda berbakat di Bali, I Gede Juna Pratama, penghargaan untuk penyiar program Dagang gantal Ketut camplung dan Gede Tomat yang selalu berperan mengisi sejumlah hiburan di radio sehingga terpelihara pelestarian komunikasi Bali. Pengharapan juga diberikan kepada sepuluh (10) penyanyi lagu terbaik dan menginspirasi.


More Stories
Bupati Adi Arnawa Lantik Perbekel Antar Waktu
DPRD Badung Dendy Astra Wijaya Apresiasi Pleno KPU, Perkuat Akurasi Data Pemilih Berkelanjutan
Gubernur Wayan Koster Perintahkan Perbaiki Jalan dan Lampu demi Kenyamanan Pemedek saat IBTK 2026